Buah Naga Merah Komoditi Rintisan Prospektif Dikembangkan di Kabupaten Tebo

Selasa, 20 Desember 2016 04:01 WIB Second

 SALAH satu komoditi  hortikultura  yang tengah di kembangkan di kabupaten Tebo adalah buah Naga  Merah ( Hylocereus polyrhizus ).  Menurut Ir. Sarjono selaku  kepala Dinas Pertanian Kabupaten Tebo,  kabupaten Tebo mempunyai kesesuaian lahan dan iklim   yang cocok   dan  mempunyai keunggulan  komparatif bagi pengembangan budidaya  dan pemasaran  hasil buah Naga Merah. 

“Beberapa hari yang lalu saya sempatkan mengunjungi salah satu sentra  bibit  dan tanaman buah naga di Jogjakarta, tepatnya di Kaliurang,  ternyata  hampir seluruh tanaman buah naga disana sedang tidak mengeluarkan buah. Sementara  saya di telpon oleh PPL  kita bahwa  mereka sedang panen buah naga. Saat ini setiap pokok tanaman  masih menyisakan  buah  yang akan kembali dapat dipanen  sekitar minggu ke empat bulan oktober ini. Bukankah itu menunjukan bahwa kondisi  iklim dan lahan yang di daerah kiita mempunyai keunggulan komparatif?  Dan peluang inlah yang  hendaknya dapat kita manfaatkan secara optimal,” katanya.

Buah  Naga Merah  akan menjadi  icon Kabupaten Tebo bila  program pengembangan buah naga ini berhasil dilaksanakan dan diikuti oleh  petani hortikultura lainnya . Untuk tahap pertama pengembannya  Kabupaten Tebo  akan menjadi salah  satu sentra bibit buah naga di Propinsi Jambi.

Persiapan untuk itu telah dilakukan dengan  menjadikan lahan 1,8 hektar di BPP Rimbo Ilir sebagai  sumber  bibit buah naga  merah. Sebanyak 1258  tiang  tonggak  sedang dipersiapkan dan bibit pun sudah siap. “Kami berterima kasih kepada  Bapak Gubernur Jambi  yang melalui Dinas Pertniian Tanaman Pangan Propinsi Jambi  telah berkenan membantu  kelancaran pembangunan kebun bibit buah naga berupa bantuan pengadaan  Tiang  dan bantuan bibit  buah naga bagi masyarakat Tebo,” katanya.

Untuk percepatan  pengembangan buah naga ini, prioritas utama penerima bantuan bibit buah naga baik dari Kabupaten Tebo maupun Propinsi Jami adalah kepada para Kelompok Wanita Tani ( KWT ) dan TP- PKK  di desa desa kecamatan Ribo Ulu, Rimbo Bujang, Rimbo Ilir dan VII Koto. 

“Sengaja bantuan kita berikan kepada KWT ataupun  TP-PKK desa  mengingat tanaman ini akan kita tanam di setiap pekarangan rumah sepanjang jalan  utama desa.  Bisa jadi satu rumah mendapat  5 sampai 10 batang, bibit diberikan secara gratis, kewajiban penerima bantuan adalah membuat lobang, memberi pupuk kandang dan menyiapkan tiang tonggaknya yang  bisa terbuat dari beton ataupun kayu bulian  sepanjang 2 meter,” ujarnya.

“Tanaman ini setahun sudah  dapat berbuah dan  masa tumbuhnya bisa mencapai 15 tahun, oleh karena itu investasi awal yang utama setelah bibit  adalah tiang tonggak yang kuat/kokoh  yang akan dibebani  puluhan sulur tanaman buah naga,” lanjutnya.

Harga buah naga merah di swalayan bisa mencapai 40 s/d 45 ribu rupiah per kg. harga jual di tingkat petani selama ini paling murah 25 ribu rupiah per kg.  paling sedikit setiap kg  berisi 3 buah. “Bulan September  kemaren  dari 50  tonggak tanaman buah naga  di halaman BPP RImbo ilir seluas 540 m2,  telah di panen 100 kg buah naga  yang bila dinilai dengan uang  Rp. 2,5 juta , produksi buah sampai dengan pertengahan oktober ini sudah mencapai 60 kg,” katanya.

“Dan dalam waktu dekat akan kembali dipanen, Pemasaran  hasil belum ada kendala, pedagang yang datang ketempat.  Saat ini mulai banyak masyarakat  Tebo yang memanfaatkan lahannnya untuk  ditanami  tanaman  buah naga. Oleh karena itu Dinas pertanian  akan terus mengembangkan  kebun bibit buah naga  untuk dapat menenuhi  kebutuhan  bibit masyarakat Tebo khususnya dan kedepan untuk se Propinsi Jambi Umumnya,” tambahnya.

Mengenai manfaat buah  naga   bagi kesehatan sudah tidak diragukan lagi, utamanya untuk menurunkan kolesterol, mencegah diabetes mellitus, mencegah kanker, meningkatkan kekebalan tubuh, merawat kulit dan lain sebagainya. Ini menjadikan komoditi buah naga sebagai  komoditi yang prospektif untuk ditumbuhkembangkan.

“Bila nanti telah ada sebuah desa yang  seluruh  masyarakat desanya  memanfaatkan lahan pekarangannya  dengan tanaman buah naga  dan sudah berproduksi  dan mengkonsumsi buahnya  apakah dalam bentuk juss, dimakan buah segar, maka sudah hampir dapat dipastikan bahwa desa tersebut mempunyai masyarakat yang sehat , bebas kolesterol, tidak menutup kemungkinan nantinya ada papan  nama masuk kedesa tersebut yang bertuliskan Desa ini bebas Kolesterol,” selorohnya.